IKOMA

Dirintis sejak tahun 1984, Ikatan Orangtua Mahasiswa (IKOMA) Universitas Airlangga merupakan bentuk kelanjutan aktivitas berkumpulnya para orangtua mahasiswa yang sedang belajar di Universitas Airlangga. Selain untuk mempererat sambung rasa, inisiatif berkumpulnya para orangtua mahasiswa tersebut sebenarnya juga ditujukan untuk membantu meningkatkan kualitas dan menunjang kegiatan yang belum dapat dilaksanakan di ranah kampus, karena keterbatasan anggaran subsidi pemerintah pada saat itu. Dalam perjalanan selanjutnya, timbul gagasan untuk mewadahi kegiatan tersebut dengan tujuan yang tertuang secara lebih formal. Dan, inilah asal mula berdirinya organisasi yang dikenal sebagai Ikatan Orangtua Mahasiswa (IKOMA) pada setiap fakultas yang bernaung di bawah Universitas Airlangga.

Demikian penjelasan Dr. M. Nasich, MS., Ak, Wakil Rektor 2 Universitas Airlangga pada acara dialog dengan perwakilan Badan Eksekutif Mahasiswa dan DLS fakultas serta universitas, Rabu (16/02), di Gedung C Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga. 

Dikatakannya lebih lanjut, sejak awal pembentukan IKOMA, universitas tidak pernah terlibat pada aktivitas apa pun, mulai dari pembentukan sampai dengan operasionalisasi organisasi tersebut. Dengan demikian, tidak sepeser pun dana IKOMA digunakan dalam anggaran pengelolaan universitas. Setiap IKOMA fakultas selalu menetapkan aktivitas mereka secara mandiri, untuk selanjutnya diketahui oleh pimpinan fakultas. Dengan demikian, penetapan besarnya sumbangan yang disepakati diantara para orangtua, penggunaan, serta pertanggungjawaban anggarannya, dilakukan oleh setiap organisasi di lingkungan fakultas masing – masing.

Secara umum, penetapan besarnya uang sumbangan dilakukan dalam sebuah pertemuan orangtua yang diadakan secara khusus melalui kesepakatan bersama. Kesepakatan tersebut selalu mengacu pada kemampuan umum orangtua mahasiswa sebagai dasar penetapan sumbangan. Atas dasar itu pulalah, masing-masing fakultas menetapkan kategori, antara lain kategori keluarga tidak mampu, keluarga dengan kemampuan terbatas, dan keluarga dengan kemampuan lebih. IKOMA Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik misalnya, bahkan telah memberikan beasiswa kepada mahasiswa kurang mampu tanpa mempertimbangkan indeks prestasi mahasiswa. 

“Beasiswa dengan persyaratan indeks prestasi tinggi tidak memberikan kesempatan kepada mereka yang berasal dari keluarga dengan kemampuan terbatas. Bagaimana mungkin mahasiswa belajar optimal sementara kondisinya minimal. Inilah dasar pemberian beasiswa kami,” kata  Endang Sayekti, SH. M Hum., selaku bendahara I pada IKOMA FISIP. 

Lebih lanjut ia menjelaskan, pengelolaan dana IKOMA FISIP dilakukan atas kerjasama yang harmonis dengan pimpinan fakultas. Setiap awal tahun diadakan rapat kerja bersama perwakilan mahasiswa untuk membicarakan program kerja yang diajukan oleh mahasiswa. Dengan demikian, mahasiswa dan pihak fakultas mengetahui secara jelas pemanfaatan dana IKOMA. “Kami juga senantiasa memberikan bantuan penyediaan fasilitas untuk kelancaran program belajar, seperti pendingin ruangan, in – focus, penyempurnaan bangunan,” jelasnya. 

Masih Terkendala

Harus diakui, bahwasanya masih saja terdapat kekurangan pada pelaksanaan pengelolaan dana IKOMA di beberapa fakultas, termasuk transparansi. Peserta dialog dari beberapa fakultas, yaitu Fakultas Sains dan Teknologi, Fakultas Keperawatan, dan Fakultas Kedokteran Hewan menyatakan masih terjadinya ketidakjelasan penggunaan dana IKOMA. Mereka berharap untuk segera dilakukan langkah pembenahan pemanfaatan dana tersebut agar mahasiswa mengetahui secara pasti. “Perlu transparansi agar kami tahu jelas bagaimana dana itu dikelola,” tegas mereka. 

Menanggapi hal itu, Dr. M. Nasich menyatakan bahwa sudah saatnya ditetapkan standard operational procedure dalam pengelolaan keuangan IKOMA pada masing-masing fakultas. 

Disamping masalah transparansi, masalah yang juga terjadi di hampir semua fakultas adalah ketidaktertiban pembayaran angsuran sumbangan IKOMA. Seringkali, hal itu memaksa fakultas untuk memberlakukan beberapa persyaratan bagi mahasiswa, seperti misalnya pengambilan kartu hasil studi yang baru dapat dilakukan setelah pelunasan sumbangan. Kondisi semacam itu kemudian dirasa menyalahi kesepakatan semula, dimana kegiatan IKOMA semestinya tidak dikaitkan dengan proses akademik. 

“Namun ternyata tidak semudah itu, mengingat penunggakan pembayaran selalu saja terjadi dan fakultas menjadi tidak berdaya,” ujar Dr. Nasich.  Oleh karena itu, pimpinan universitas tidak henti-hentinya mengingatkan pihak fakultas untuk selalu membenahi permasalahan tersebut sesegera mungkin. 

Sementara itu, Rektor Universitas Airlangga dalam Surat Keputusan no. 088 2011 tegas menyatakan, universitas tidak ikut campur tangan dalam pengelolaan dana sumbangan IKOMA. Dengan kata lain, organisasi IKOMA berada di luar organ universitas.